Kisah Devie Walangitan Merawat Warisan Minahasa di Semarang
Di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi, masih ada beberapa orang yang dengan gigih mempertahankan warisan budaya daerahnya. Salah satu contoh nyata adalah kisah Devie Walangitan, seorang lelaki asal Minahasa yang telah menetap di Kota Semarang sejak tahun 1994. Ia bukan hanya sekedar warga pendatang, melainkan telah menjadi bagian integral dari kehidupan budaya Semarang, khususnya dalam melestarikan musik tradisional Kolintang. Musik ini, yang berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara, telah menjadi simbol kekayaan budaya Indonesia yang tak ternilai. Dengan dedikasi dan kesabaran, Devie telah mengembangkan dan memperkenalkan Kolintang kepada masyarakat Semarang, sehingga menjadi bagian dari warisan budaya yang tak terpisahkan dari kota tersebut.
Perjalanan Devie Walangitan
Perjalanan Devie Walangitan di Semarang dimulai pada tahun 1994, ketika ia memutuskan untuk meninggalkan tanah kelahirannya, Minahasa, untuk mencari pengalaman dan kesempatan baru di Jawa Tengah. Sebagai seorang yang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan yang kaya akan tradisi dan budaya, Devie membawa serta warisan musik Kolintang yang telah menjadi bagian dari hidupnya sejak kecil. Ia tidak hanya membawa musik ini sebagai kenangan, melainkan juga sebagai misi untuk memperkenalkan dan melestarikannya di tanah baru. Dengan latar belakang sebagai pemain Kolintang yang terlatih, Devie memiliki visi untuk membagikan keindahan dan keunikan musik ini kepada masyarakat Semarang.
Awalnya, upaya Devie untuk memperkenalkan Kolintang di Semarang tidaklah mudah. Ia menghadapi tantangan seperti kurangnya pemahaman masyarakat tentang musik tradisional ini, serta keterbatasan sumber daya untuk mengembangkan dan mempromosikannya. Namun, dengan semangat dan dedikasi yang kuat, Devie terus berusaha. Ia memulai dengan mengajar dan berbagi pengetahuan tentang Kolintang kepada siapa saja yang tertarik, dari anak-anak hingga dewasa. Melalui proses pembelajaran yang sabar dan telaten, Devie berhasil membangkitkan minat dan antusiasme masyarakat Semarang terhadap musik Kolintang.
Mengembangkan Sanggar Kolintang Kalooranta
Salah satu langkah penting yang diambil Devie dalam melestarikan dan mengembangkan Kolintang di Semarang adalah dengan mendirikan Sanggar Kolintang Kalooranta. Sanggar ini menjadi pusat kegiatan untuk belajar, berlatih, dan memperkenalkan musik Kolintang kepada masyarakat luas. Dengan nama "Kalooranta" yang berasal dari bahasa Minahasa, yang berarti "hati yang suci" atau "jiwa yang murni", sanggar ini tidak hanya menjadi tempat untuk mempelajari musik, melainkan juga sebagai sarana untuk memupuk nilai-nilai kebudayaan dan kearifan lokal.
Di bawah bimbingan Devie, Sanggar Kolintang Kalooranta berkembang pesat. Sanggar ini menjadi rumah bagi banyak pemuda dan pemudi yang ingin belajar dan mengembangkan kemampuan mereka dalam memainkan Kolintang. Melalui berbagai kegiatan, seperti pelatihan reguler, pertunjukan, dan workshop, Devie dan timnya berhasil menciptakan komunitas yang solid dan bersemangat dalam melestarikan musik Kolintang. Sanggar ini juga menjadi jembatan yang menghubungkan masyarakat Semarang dengan warisan budaya Minahasa, sehingga memperkaya kehidupan budaya kota tersebut.
Warisan Budaya yang Tak Ternilai
Kolintang, sebagai salah satu warisan budaya Indonesia, memiliki nilai yang tak ternilai. Musik ini tidak hanya merupakan ekspresi artistik, melainkan juga merupakan simbol identitas dan kebanggaan masyarakat Minahasa. Dengan irama yang unik dan ritme yang dinamis, Kolintang mampu membangkitkan semangat dan kegembiraan bagi siapa saja yang mendengarkannya. Lebih dari itu, Kolintang juga merupakan sarana untuk memupuk nilai-nilai kebersamaan, kesabaran, dan kerja sama, karena memainkan musik ini memerlukan koordinasi dan harmoni yang baik antara pemain.
Upaya Devie Walangitan dalam melestarikan dan mengembangkan Kolintang di Semarang telah memberikan kontribusi signifikan terhadap pelestarian warisan budaya Indonesia. Ia telah menunjukkan bahwa dengan dedikasi dan kesabaran, kita dapat mempertahankan dan mengembangkan warisan budaya, bahkan di tanah yang jauh dari asalnya. Melalui kisah Devie, kita juga diingatkan tentang pentingnya memahami dan menghargai kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia, serta peran kita sebagai bagian dari masyarakat dalam melestarikannya untuk generasi mendatang.
Masa Depan Kolintang di Semarang
Kini, Kolintang telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan budaya Semarang. Berkat upaya Devie Walangitan dan Sanggar Kolintang Kalooranta, musik ini telah dikenal dan dinikmati oleh banyak orang, dari berbagai latar belakang dan usia. Pertunjukan Kolintang telah menjadi salah satu daya tarik budaya kota Semarang, menarik pengunjung dan pecinta budaya dari seluruh penjuru.
Untuk masa depan, Devie dan komunitas Kolintang di Semarang terus berusaha untuk mengembangkan dan memperkenalkan musik ini kepada generasi lebih muda. Mereka berencana untuk mengadakan lebih banyak workshop, pelatihan, dan pertunjukan, tidak hanya di Semarang, melainkan juga di kota-kota lain di Jawa Tengah. Dengan demikian, diharapkan Kolintang dapat terus menjadi sumber inspirasi dan kebanggaan, serta simbol kekayaan budaya yang tak ternilai bagi masyarakat.
Dalam kesimpulan, kisah Devie Walangitan dan upayanya dalam melestarikan Kolintang di Semarang merupakan contoh nyata tentang bagaimana warisan budaya dapat dipertahankan dan dikembangkan dengan dedikasi dan kesabaran. Melalui Sanggar Kolintang Kalooranta, Devie telah menciptakan komunitas yang kuat dan bersemangat dalam melestarikan musik Kolintang, sehingga menjadi bagian integral dari kehidupan budaya Semarang. Kisah ini juga mengingatkan kita tentang pentingnya melestarikan warisan budaya untuk generasi mendatang, dan peran kita sebagai masyarakat dalam mempertahankan dan mengembangkannya.
Ilustrasi - Redaksi Jumper Media Jawa Tengah
0 Komentar